GESER UNTUK MELANJUTKAN KONTEN BERITA
Politik
Home » Cooling System untuk Menjaga Keteraturan Sosial di Masa Suhu Politik yang Memanas

Cooling System untuk Menjaga Keteraturan Sosial di Masa Suhu Politik yang Memanas

Komjen Pol. Prof. Dr. Cryshnanda Dwilaksana (Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian). (Foto: Bnews.id/istimewa)

Loading

Jakarta, BNEWS.ID – “Hati yang gembira adalah obat”, Pepatah di atas benar adanya, ketegangan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan bisa membuat keruh suasana. Di masa menjelang pemilihan umum suhu politik memanas. Saling serang, saling dukung dengan cara cara yang kadang kontra produktif. Plato ribuan tahun yang lalu menulis rakyat dianalogikan sebagai “big animal and beast”. Kaum sofis tahu cara menuruti, menyenang nyenangkan sampai memaksa dan memberayakan sesuai keinginannya. Di era post truth, fenomena yang ada diolah dengan sedemikian rupa diviralkan terus menerus pembenaran mengalahkan kebenaran.

Opini publik diobok-obok seolah-olah sudah gempar, geger genjik udan kirik. Heboh dengan berbagai isue yang dikemas dengan primordialisme (sara) dengan mengadu domba satu sama lainnya. Ketegangan dan memanasnya suhu politik akan semakin membuat antar saudara sesama anak bansa bisa saling serang dan sling bunuh satu sama lain. Manuver-manuver politik membuat baper dan hilangnya hati gembira. Sudah saling intip saling balas satu sama lain, saling membunuh karakter. Rakyat diberi tontonan yang menjerumuskan diprovokasi sebagai jaran keplakan.

Hati yang gembira adalah obat bagi kehidupan sosial yang sedang memanas. Membuat event-event dengan berbagai program yang membuat happy dan mencerahkan menjadi solusi cooling system. Acara acara yang menggembirakan bisa dengan model menjelang hari kemerdekaan di bulan Agustus, antara lain:

1. Lomba lomba di kampung seperti: balap karung, panjat pinang, lomba kebersihan, gerak jalan, dsb,

Soroti Video Viral Tiyo Ardianto, Syekh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk: Jangan Saling Menghujat

2. Syukuran dan makan bersama,

3. Kongkow kongkow ngobrol seni budaya,

4. Hiburan dari orgen tunggal, folk song, paduan suara, dsb,

5. Kerja bakti gotong-royong,

6. Memasak bersama Bapak-bapak,

Ketum SMSI Petakan Konstelasi Politik Nasional, Beri Arahan Strategis kepada Pengurus Se-Indonesia

7. Wayangan, ludruk, keroncongan, ketoprakan, dsb,

8. Do’a bersama, sesuai agama dan keyakinan,

9. Pameran pembangunan atau pameran seni budaya,

10. Karnaval atau pawai sesuai konteks deklarasi pemilu damai, dsb.

Acara di atas dapat dikemas dengan berbagai model kreatif yang dibuat dan memberdayakan area publik maupun media menjadi area atau tempat tempat nongkrong untuk interaksi sosial. Model dialog langsung atau melalui media untuk menggerakan komunitas komunitas yang ada. Kesepakatan untuk tetap rasional dan penyelesaian masalah dengan mengedepankan jalur hukum maupun dialog. Kegiatan di atas dapat memberdayakan soft power dan smart power sebagai ikon yang inspiratif dan meng counter issue, yang mendamaikan, mendinginkan dan mencerdaskan. (***)

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Oleh: KJP Prof Dr Chryshnanda DL, M.Si (Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian)

Share this content:

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share