Peristiwa
Home » Puluhan Hektar Lahan Pertanian dan Kolam Ikan Terbengkalai di Aceh Tenggara

Puluhan Hektar Lahan Pertanian dan Kolam Ikan Terbengkalai di Aceh Tenggara

Loading

BNEWS.ID, Aceh Tenggara – Empat tahun berlalu pasca banjir bandang melanda wilayah Aceh Tenggara, hingga kini persoalan rusaknya saluran irigasi belum juga teratasi. Kondisi tersebut membuat para petani padi dan ikan semakin terjepit akibat keterbatasan suplai air tawar yang sangat dibutuhkan untuk mengelola lahan pertanian maupun tambak.

Aliansi Sepuluh Pemuda Kabupaten Aceh Tenggara mendesak Gubernur Aceh agar serius memperhatikan pembangunan tiga irigasi utama yang rusak sejak bencana besar itu terjadi. Dua titik berada di Kecamatan Deleng Pokhkison, yakni irigasi Kute Lawe Harum (rehabilitasi berat) dan Kute Nembak Alas, sementara satu titik lainnya di Kecamatan Lawe Bulan, tepatnya Kute Lawe Kinge, yang dinilai perlu dibangun baru.

“Sudah terlalu lama petani kita menjadi korban dari lambannya penanganan Balai Sungai Provinsi Aceh. Puluhan hektar lahan pertanian dan kolam ikan terbengkalai karena suplai air tidak mencukupi. Ini masalah serius bagi kehidupan petani,” tegas Ketua Aliansi Sepuluh Pemuda, Dahrinsyah, kepada Bnews.id, Senin (9/9/2025).

Ia menambahkan, kondisi lahan di Kecamatan Deleng Pokhkison, Lawe Bulan, Lawe Sumur, hingga Bambel seringkali terancam gagal panen. Keluhan petani padi maupun ikan terus terdengar karena air yang seharusnya menopang usaha mereka justru menjadi barang langka.

Spesialis Curanmor Modus Kunci Letter T Beraksi, Polres Binjai Lumpuhkan Pelaku

Meski demikian, pihaknya tetap mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara yang terus mengusulkan pembangunan irigasi baru, termasuk Irigasi Lawe Sky. “Kami berharap Bupati Aceh Tenggara, Bapak H.M. Salim Fakhry, tetap mengawal usulan ini hingga benar-benar terealisasi pada tahun ini,” ucap Dahrinsyah.

Menurutnya, kebutuhan pembangunan irigasi semakin mendesak karena selain masalah air, petani juga tengah dihantam harga pakan ikan yang melambung tinggi, pupuk yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), serta kondisi pasar ikan yang lesu. “Saat pemerintah pusat gencar mendorong program ketahanan pangan, ironis sekali jika daerah justru kekurangan air. Ini harus menjadi perhatian bersama,” imbuhnya.

Kondisi ini turut dirasakan langsung oleh para petani. Samsir Kardi, petani ikan asal Kute Bantil, mengaku kesulitan mendapatkan air sejak irigasi Lawe Sky rusak. “Kami sering berebut air dengan warga lain di hulu sungai. Saluran irigasi menuju tambak saya bahkan sempat kering total,” keluhnya.

Ia menceritakan, sebelum irigasi rusak, kolam ikan bisa terisi penuh hanya dalam dua hingga tiga hari. Namun kini, untuk mengisi tambak butuh waktu hingga tiga pekan, bahkan sebulan. Kondisi ini sering menimbulkan gesekan antarpetani karena perebutan sumber air.

Tak hanya tambak, lahan sawah milik orang tuanya juga sempat terbengkalai selama tiga bulan karena tidak mendapatkan pasokan air. “Alhamdulillah sekarang sudah bisa ditanami lagi setelah kami berbagi pasokan air dengan tetangga. Tapi ini bukan solusi jangka panjang, pemerintah harus peduli,” tegas Samsir.

Kapolres Dan Bupati Langkat Inisiasi Penyelesaian Permasalahan Hukum Melalui Musyawarah dan Mediasi, Anggota Komisi III DPR RI Apresiasi Langkah yang Ditempuh

Pantauan Bnews.id di lapangan, dua dari tiga irigasi yang dimaksud masih belum tersentuh pembangunan serius. Padahal, pihak Balai Sungai Provinsi Aceh bersama Forkopimda Aceh Tenggara pernah turun langsung melakukan observasi dan investigasi ke Irigasi Lawe Sky beberapa bulan lalu. Hingga kini, tindak lanjut nyata belum terlihat.

Masyarakat berharap, pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret untuk membangun kembali irigasi yang rusak. Bagi petani di Aceh Tenggara, ketersediaan air bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan urat nadi bagi keberlangsungan hidup dan ketahanan pangan daerah. (Lan01/Lana)

Share this content:

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share