![]()
BNEWS.ID, Aceh Tenggara – Suara deru air sungai di Desa Terutung Megara Baru, Kabupaten Aceh Tenggara, dulu sering membuat hati warga cemas. Setiap kali hujan deras turun di hulu, debit air meningkat, dan jembatan darurat dari batang kelapa serta pinang menjadi taruhan. Kadang kayunya lapuk, kadang hanyut dibawa arus. Bagi warga yang menggantungkan hidup dari hasil panen padi, jagung, dan kakao, kondisi itu adalah hambatan besar yang mereka hadapi bertahun-tahun.
Namun, kini cerita itu mulai berubah. Sebuah jembatan permanen akhirnya berdiri megah, membelah sungai yang selama ini menjadi penghalang. Bagi orang luar, mungkin ia hanya sebongkah beton penghubung. Tetapi bagi masyarakat Terutung Megara Baru, jembatan ini adalah denyut kehidupan baru.
Sebelum jembatan permanen dibangun, warga bergantian menjaga jembatan darurat. Lebarnya hanya delapan meter, panjangnya tujuh meter, dengan susunan batang kelapa dan pinang seadanya. Di atasnya, kendaraan roda dua harus ekstra hati-hati melintas, apalagi ketika basah terkena hujan. Sementara bagi anak-anak sekolah, menyeberangi jembatan itu berarti berjudi dengan rasa takut.
Bagi petani kecil, keterlambatan menjual hasil panen bukan hanya soal rugi uang, tapi juga hilangnya jerih payah berbulan-bulan.
“Kalau musim hujan, air naik, jembatan bisa hanyut. Kami sering harus menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari sampai bisa menyeberang lagi,” kenang Marjuan Efendi, salah seorang warga desa. “Kalau panen sudah siap, kami bingung mau dibawa ke mana. Kadang padi jadi busuk karena terlambat dijual.” Kata Marjuan Efendi, rabu (20/08/2025) siang kepada BNEWS.ID.

Foto: Pembangunan Jembatan di Desa Terutung Megara Baru, Kabupaten Aceh Tenggara
Kesulitan itu akhirnya terjawab ketika pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun jembatan permanen di desa tersebut. Proyek yang dikerjakan secara bertahap itu kini telah rampung, memberi rasa lega bagi seluruh warga.
Kini, jembatan baru bukan hanya menghubungkan dua sisi sungai, tetapi juga dua sisi kehidupan: masa lalu yang penuh keterbatasan dengan masa depan yang penuh harapan.
“Kami kerjakan sesuai spesifikasi, bukan asal jadi. Insyaallah jembatan ini bisa bertahan puluhan tahun,” kata Katun Desky, kepala konstruksi pembangunan.
Perubahan paling dirasakan oleh anak-anak sekolah. Mereka tak lagi harus menyeberangi batang kelapa yang licin hanya untuk bisa belajar. Dengan langkah mantap, mereka kini bisa berjalan di atas jembatan kokoh menuju sekolah.
“Anak-anak lebih semangat berangkat sekolah, kami pun tidak khawatir lagi,” ujar Marjuan Efendi.
Marjuan Efendi menjelaskan Bagi para petani, jalan menuju pasar kini terbuka lebar. Hasil panen bisa dibawa menggunakan kendaraan, tanpa takut terhenti di tengah jalan. Roda perekonomian desa pun berputar lebih cepat. Harga jual hasil pertanian pun lebih menguntungkan karena bisa dipasarkan tepat waktu.
“Bagi warga Terutung Megara Baru, jembatan ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol perhatian pemerintah, tanda bahwa suara desa yang kecil sekalipun didengar. “Kami berterima kasih sekali. Hidup jadi lebih mudah. Kalau dulu kami susah, sekarang sudah jauh lebih baik,” kata Marjuan dengan wajah berbinar,” sebutnya.
Tambahnya, Kini, setiap kali warga melintas di atas jembatan itu, mereka bukan hanya menyeberangi sungai.
“Mereka menyeberangi batas lama menuju kehidupan baru yang lebih aman, lebih nyaman, dan lebih sejahtera,” ucap Marjuan Efendi.
Di balik kokohnya struktur beton, ada kisah panjang tentang kesabaran, perjuangan, dan doa warga desa yang akhirnya terjawab. Jembatan Terutung Megara Baru bukan hanya menghubungkan dua daratan, melainkan juga menghubungkan harapan-harapan sederhana dengan masa depan yang lebih cerah. (Lan01/Lana)
Bagikan berita ini :








