Ragam
Home » ANALISIS MODEL PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER SISWA DI SMAN 2 BATUSANGKAR

ANALISIS MODEL PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER SISWA DI SMAN 2 BATUSANGKAR

Loading

Regita Aliffia Yuti. Sintia Afrilia Ningsih. Widiya. Wildatul Husna dan Dr. Hj. Demina, M.Pd.

( MAHASISWI DAN DOSEN IAIN BATUSANGKAR )

Sintiaafrilia44@gmai.com, regitaaliffia9@gmail.com, wildatulhusnah06@gmail.com, widiyalukiana18@gmail.com

ABSTRAK

DPRD Banten Sahkan Rekomendasi LKPj Gubernur Tahun Anggaran 2025

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran yang efektif dalam upaya membentuk karakter siswa di SMAN 2 Batusangkar. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah survey dan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa model pembelajaran yang efektif dalam upaya membentuk karakter siswa di SMAN 2 Batusangkar adalah dengan menggunakan metode yang sudah tersususn di dalam RPP masing-masing mata pelajaran. RPP berisi pengaturan yang berkenaan dengan perkiraan atau proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Nanti ada pendidikan karakter di setiap RPP tersebut seperti berbaris sebelum memasuki kelas, melatakkan sepatu pada tempatnya, berdo’a sebelum memulai pembelajaran, membaca Al-Quran dan storan ayat pendek seperti surah An-naziyat untuk kelas XI dan surah An-naba’ untuk kelas X, dan Al- Muthaffiffin untuk kelas XII jadi semua metode tersebut sudah ada di dalam KTSP SMAN 2 Batusangkar.

Kata Kunci : Model Pembelajaran, efektif, uapaya, karakter, siswa

PENDAHULUAN

Membentuk memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga membentuk dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman atau pengertian dinamis lainya. Sedangkan karakter sendiri dipandang sebagai sikap yang terimplementasikan melalui perilaku.

Pembentukan karakter merupakan salah satu dari tujuan pendidikan nasional. Pasal 1 UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Pesan dari UU Sisdiknas tahun 2003 bertujuan agar pendidikan tidak hanya membentuk insan yang pintar, namun juga kepribadian. Dengan demikian nantinya akan lahir generasi muda berkarakter  dan berilmu serta berkepribadian yang bernafaskan nilai-nilai luhur agama dan pancasila.

Akhiri Dinamika 3 Bulan, PANPEL Tetapkan Angga-Siti Pemenang Sah PEMIRA BEM USU 2026

Karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “charakter”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti kepribadian atau akhlak (Oxford). Secara etimologis, karakter artinya adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral. Secara terminologis, karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Karakter dapat dianggap sebagai nilai- nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia. Lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat-istiadat, dan estetika.

LANDASAN TEORI

  1. Model Pembelajaran
  2. Pengertian Model Pembelajaran.

Pada umumnya Model pembelajaran dapat diartikan sebagai prosedur sistematis yang digunakan dala mengelola pengalaman belajar guna mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Suyanto dan Jihad (2013) model pembelajaran mempunyak empat ciri khusus, yakni :

  1. Bersifat rasional dan teoritis.
  2. Berorientasi pada pencapaian tujuan pembelajaran.
  3. Mendasarkan pada cara khusus supaya model dapat diterapkan secara efektif
  4. Memperhatikan aspek lingkungan pembelajaran yang efektif dapat dilaksanakan.

2.Karakteristik Model Pembelajaran.

Polres Binjai Ungkap Kasus Reskrim Dan Narkoba Kurun Waktu Januari s/d April 2026

  1. Mempunyai prosedur yang sitematis dan jelas

Model pembelajaran yang baik adalah disusun dengan rancangan yang jelas, runtut guna meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap, dan keterampilan yang didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu.

  • Adanya rumusan capaian pelajaran yang jelas

Suatu model pembelajaran yang baik adalah yang memiliki tujuan (capaian) pembelajaran yang spesifik dan terukur. Oleh karena itu pencapaian pembelajaran harus menunjukan kompetensi dasar dan indikatornya.

  • Persyaratan kondisi lingkungan belajar.

Kondisi lingkungan yang memnuhi suatu model pembelajaran yang disusun harus ditetapkan. Hal ini agar guru dapat merancang kondisi lingkungan yang nyaman di dalam melakukan proses pembelajran.

  • Ukuran keberhasilan

Model pembelajaran yang baik menetapkan kriteria kinerja yang diharapkan, model pembelajaran yang baik menggambarkan hasil pembelajaran yang yang baik pula.

  • Adanya interaksi dengan lingkungan.
  • Suatu model pembelajaran yang baik meberikan kesempatan kepada siswa berinteraksi dengan lingkungan belajarnya.[1]
  1. KARAKTER

Secara Etimologi, kata karakter dapat dipahami dari sejumlah bahasa, “ Character” (Latin) berarti instrument of narking, “ Charessein” (Prancis) berarti to engrave (mengukir), “watek (jawa) berarti ciri wanci, “watak” (Indonesia) berarti sifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku; budi pekerti; tabiat; perangai. Jadi istilah berkarakter artinya memiliki karakter karakter, memiliki kepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Individu yang berkarakter baik dan unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap hubunganya dengan Tuhan yang maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya dan adat istiadat. Orang-orang yang berprilaku sesuai dengan norma-norma tersebut disebut berkarakter mulia.

Secara terminologi, menurut Alwisol  mengartikan karakter sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit[2]. Terkait dengan ini Wyne mengatakan karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” ( menandai) dan Memfokuskan pada bagaimana mangaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.[3] Karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitudes) dan perilaku (behaviours). Karakter meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal-hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti berfikir kritis dan alasan moral, perilaku seperti jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh keadilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara efektif dalam berbagai keadaan, dan komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu ( intelektual, sosial, emosional, dan etika). Individu yang berkarakter baik adalah seseorang yang berusaha melakukan hal yang terbaik.[4]

Efektivitas pendidikan karakter sangat ditentukan oleh adanya system yang sangat ditentukan oleh adanya system yang di bentuk secara sistematis dan terstruktur yang dilakukan secara serentak dan berkelanjutan. Pendekatan yang strategis terhadap pelaksanaan ini melibatkan beberapa komponen yang saling terkait satu sama yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat yang sering di istilahkan dengan tripusat pendidikan.

  1. KARAKTER SISWA

Istilah karakter terkadang dihubungkan dan dipertukarkan dengan istilah etika, ahlak, dan atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif bukan netral. Sedangkan Karakter dalam Kamus bahasa Indonesia merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. 

Karakter sering diasosiasikan dengan istilah dengan temperamen yang lebih memberi penekanan pada definisi psikososial yang dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan yang juga disebut faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang.

Karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “charakter”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti kepribadian atau akhlak (Oxford). Secara etimologis, karakter artinya adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral. Secara terminologis, karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Karakter dapat dianggap sebagai nilai- nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia. Lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat-istiadat, dan estetika. 

Empat pokok hal dominan dari karakteristik siswa yang harus di pahami oleh guru yaitu :

  1. Kemampuan dasar seperti kemampuan kognitif atau intelektual.
  2. Latar belakang kultural local, status sosial, situs ekonomi, agama, dll.
  3. Perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat,dll.
  4. Cita-cita, pandangan ke depan, keyakinan diri, daya tahan dll.

Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik mempunyai tujuan yaitu :

  1. Memperoleh informai yang lengkap dan akurat berkenaan dengan kemampuan serta karakteristik awal siswa sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu.
  2. Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan, serta kecendrungan peserta didik berkaitan dengan pemilihan program-program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka.
  3. Menentukan desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.[5]

Menurut Samani dan Hariyanto (2011:41) karakter adalah “perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bersikap maupun dalam berindak.” Kamus Bahasa Indonesia, menyatakan bahwa karakte            r merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.

METODE PENELITIAN   

  1. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian dilakukan di SMAN 2 Batusangkar yang beralamat di JL. Batu Ambung, Koto Kaciak, Tj. Raya, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah guru BK di SMAN 2 Batusangkar.

  1. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan metode studi kasus.

  1. Tahap Pelaksanaan Penelitian
  2. Persiapan Penelitian.
  3. Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan Penelitian ini yaitu pada tanggal 4 Desember 2021 di SMAN 2 Batusangkar. Adapun garis besar pelaksanaan penelitian yaitu :

  1. Wawancara

Wawancara di lakukan pada guru BK di SMAN 2 Batusangkar, wawancara dilakukan supaya penulis dapat mengumpulkan data melalui wawancara.

  • Observasi Kelas

Observasi kelas dilakukan di kelas 12, dengan jalan mengamati proses pembelajaran berlangsung dari awal hingga akhir selama pembelajaran Sejarah berlangsung.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Penelitian

Metode pembelajaran yang efektif dalam upaya membentuk karakter siswa di SMAN 2 Batusangkar sudah tercantum di dalam RPP guru masing-masing tergantung pada mata pelajaranya. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) merupakan pegangan seorang guru dalam mengajar di dalam kelas. RPP di buat oleh guru untuk membantunya dalam mengajar agar sesuai dengan Standar Kompetensi Dasar pada hari tersebut. RPP berisi pengaturan yang berkenaan dengan perkiraan atau proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Nanti ada pendidikan karakter di setiap RPP tersebut seperti berbaris sebelum memasuki kelas, melatakkan sepatu pada tempatnya, berdo’a sebelum memulai pembelajaran, membaca Al-Quran dan storan ayat pendek seperti surah An-naziyat untuk kelas XI dan surah An-naba’ untuk kelas X dan Surah Al- Muthaffiffin untuk kelas XII, jadi semua metode tersebut sudah ada di dalam KTSP SMAN 2 Batusangkar. Kemudian dalam guru mata pelajaran ada di dalam RPP nya yaitu RPL yaitu pembentukan sikap terhadap siswa.

Hal-hal yang dilakukan oleh guru sebelum melakukan/ menerapkan metode tersebut yaitu guru di SMAN 2 Batusangkar melakukan sosialisasi terlebih dahulu, sosialisasi dilakukan sebulan terlebih dahulu sambil melihat perubahan karakter siswa melalui metode tersebut. Jika hasil dari metode pembelajaran pembentukan karakter tersebut baik maka guru akan melanjutkan metode pembelajaran tersebut. Sekarang metode ini sudah berjalan selama 3 bulan terakhir dan sudah menghasilkan karakter yang baik bagi setiap siswa di SMAN 2 Batusangkar.

Dalam mengimplementasikan metode pembelajaran dalam upaya meningkatkan karakter siswa di SMAN 2 Batusangkar guru-guru di SMAN 2 Batusangkar melakukan percontohan terlebih dahulu kepada siswanya, bagaimana cara bersikap yang baik terhadap guru maupun sesama teman, bagaimana cara menghormati dan menghargai guru saat guru melakukan pembelajaran baik di dalam ruangan kelas maupun di luar kelas dan guru juga selalu mengingatkan kepada siswa terhadap hafalan ayat suci Al-Quaran setiap harinya.

Dampak dari metode pembelajaran yang telah di terapkan oleh SMAN 2 Batusangkar ini sudah berjalan baik selama kurang lebih 3 bulan, dapat dilihat dari peningkatan kebaikan karakter siswa yang di lihat dari hari ke hari, namun masih ada beberapa siswa yang masih belum memahami metode pembelajaran karakter tersebut. Upaya yang dilakukan oleh guru terhadap siswa yang kurang memahami metode pembelajaran tersebut yaitu guru melakukan pembicaraan empat mata kepada siswa tersebut agar siswa tersebut lebih memahami metode pembelajaran tersebut guna untuk meningkatkan karakter nya dalam pembelajaran, disamping itu guru juga akan terus menagih bacaan surat-surat pendek tersebut sehingga siswa terbiasa denga sendirinya dan akhirnya mau mengikutinya, sanksi yang di dapat oleh siswa yang tidak mengikuti metode pembelajaran tersebut yaitu tidak diperbolehkan mengikuti ujian semester nanti karena tidak ada bukti bahwa mereka melakukan metode pembelajaran tersebut.

Keberhasilan metode pembelajaran yang di terapkan di SMAN 2 Batusangkar ini sudah mencapai 85%, melalui hasil wawancara yang peneliti lakukan bahwa guru-guru di SMAN 2 Batusangkar ini akan terus mengingatkan kepada siswa nya mengenai metode pembelajaran yang telah di terapkan tersebut supaya akan terus menghasilkan siswa-siswi yang berkarakter baik.

KESIMPULAN

 Jadi Metode pembelajaran yang efektif dalam upaya membentuk karakter siswa di SMAN 2 Batusangkar sudah tercantum di dalam RPP guru masing-masing tergantung pada guru mata pelajaran masing-masing. RPP berisi pengaturan yang berkenaan dengan perkiraan atau proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Nanti ada pendidikan karakter di setiap RPP tersebut seperti berbaris sebelum memasuki kelas, melatakkan sepatu pada tempatnya, berdo’a sebelum memulai pembelajaran, membaca Al-Quran dan storan ayat pendek seperti surah An-naziyat untuk kelas XI dan surah An-naba’ untuk kelas X, jadi semua metode tersebut sudah ada di dalam KTSP SMAN 2 Batusangkar. Kemudian dalam guru mata pelajaran ada di dalam RPP nya yaitu RPL yaitu pembentukan sikap terhadap siswa.

 Dalam mengimplementasikan metode pembelajaran dalam upaya meningkatkan karakter siswa di SMAN 2 Batusangkar guru-guru di SMAN 2 Batusangkar melakukan percontohan terlebih dahulu kepada siswanya, bagaimana cara bersikap yang baik terhadap guru maupun sesama teman, bagaimana cara menghormati dan menghargai guru saat guru melakukan pembelajaran baik di dalam ruangan kelas maupun di luar kelas dan guru juga selalu mengingatkan kepada siswa terhadap hafalan ayat suci Al-Quaran setiap harinya

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol.2006. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM.

Meriyati. 2015. Memahami Karakteristik Anak Didik. Bandar Lampung: Fakta Press

Musfiroh. 2008. Tinjauan Berbagai Aspek Character Building: Pengembangan Karakter Anak Melalui Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Tiara wacana Yogyakarta

Tatik Suryani. Metode Pembelajaran. Modul PKT.04.

Wyne. Character and academics in the elementary school. In. J.S. Moral Character, and civic education in the elementary school. Newyork: Teacher College Press


[1] Tatik Suryani, Metode Pembelajaran,  Modul PKT.04.

[2] Alwisol, 2006 “ Psikologi Kepribadiaan” Malang: UMM

[3] Wyne, E.A, “ Character and academics in the elementary school. In. J.S. Moral Character, and civic education in the elementary school. Newyork: Teacher College Press

[4] Musfiroh, “ Tinjauan Berbagai Aspek Character Building: Pengembangan Karakter Anak Melalui Pendidikan Karakter, 2008. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogyakarta.

[5] Meriyati “ Memahami Karakteristik Anak Didik” 2015. Bandar Lampung: Fakta Press

Share this content:

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share