![]()
BNEWS.ID, Jakarta – Memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang turut melibatkan Israel berdampak langsung pada pasar keuangan global. Ketegangan yang meningkat memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dunia, sehingga mendorong lonjakan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Di dalam negeri, kenaikan harga emas terlihat pada produk yang diperdagangkan melalui Pegadaian. Berdasarkan data terbaru per Senin, 2 Maret 2026, harga emas produksi Galeri24 naik menjadi Rp3.130.000 per gram dari sebelumnya Rp3.065.000 per gram.
Sementara itu, emas produksi UBS juga mengalami kenaikan signifikan ke level Rp3.167.000 per gram, dibandingkan pekan lalu yang berada di angka Rp3.083.000 per gram.
Kenaikan serupa terjadi pada emas produksi Antam. Berdasarkan laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam kini mencapai Rp3.135.000 per gram.
Analis pasar menilai, lonjakan harga emas dipicu meningkatnya permintaan global terhadap aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik. Ketegangan militer yang meluas di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia, terutama minyak mentah, yang dapat memicu tekanan inflasi global.
Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko seperti saham ke instrumen yang dianggap lebih stabil, termasuk emas dan dolar AS. Permintaan yang meningkat tersebut otomatis mendorong harga logam mulia naik di pasar internasional, yang kemudian berdampak pada harga domestik.
Meski tren emas saat ini menunjukkan penguatan, pengamat mengingatkan investor tetap memperhatikan dinamika global yang sangat fluktuatif. Jika konflik mereda, harga emas berpotensi mengalami koreksi.
Namun selama ketegangan antara AS dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi, emas diperkirakan masih akan menjadi pilihan utama investor sebagai instrumen perlindungan nilai.
Dengan kondisi geopolitik yang belum stabil, pergerakan harga emas dalam beberapa waktu ke depan diprediksi masih akan dipengaruhi perkembangan situasi konflik di Timur Tengah serta respons kebijakan ekonomi global. (Bnews.id)
Share this content:






Comment