![]()
BNEWS.ID, Bogor – Tuwu Nukhada adalah merek tenun songket mewah yang dirancang di Indonesia, desain yang mencirikan nias yang kaya akan warisan budaya dan didirikan pada tahun 2024. TUWUNUKHADA memiliki arti filosofis “Mengangkat Budaya Nias dari Kain”.
Nama ini menjadi pilihan karena sangat menggambarkan tujuan utama dari sang owner. “Dibalik Kain ada Budaya, Dibalik Budaya ada Cerita!” Slogan ini menunjukan bahwa Songket Nias Tuwu Nukhada bukan sekedar kain sederhana tetapi merupakan sebuah seni yang penuh dengan cerita.
“Kami ingin melestarikan sejarah dan warisan budaya Nias sebagai seni yang dituangkan ke dalam kain yang dapat digunakan. Kain-kain ini memiliki makna yang sangat dalam karena kami menuangkan semua adat istiadat, budaya dan seni nenek moyang kami ke dalam kain-kain ini. Kami berharap dengan adanya karya ini, budaya Nias akan semakin dikenal dan nilai-nilai budaya kami yang memiliki makna yang dalam dapat diperkenalkan kepada masyarakat di seluruh Indonesia dan dunia,” ungkap sang Owner Ramininalai Dakhi, jumat (7/1/)
Ia menjelaskan, songket Nias lahir dari keinginan untuk merayakan dan melestarikan warisan budaya Nias yang kaya. Ide ini berawal dari mimpi seorang wanita asal Nias Selatan untuk mengangkat dan melestarikan budaya Nias. Kini mimpi itu telah menjadi kenyataan dan mulai dibangun oleh wanita tersebut dan kedua putrinya.
Dari situ mereka mulai membuat sebuah riset yang mendalam tentang keunikan adat dan suku Nias. Mereka mengumpulkan informasi dan artefak agar bisa dituang pada Songket Nias Tuwu Nukhada. Dari situ mereka memulai projek ini dengan menciptakan desain-desain untuk Songket Nias Tuwu Nukhada. Mereka melewati trial & error untuk beberapa prototype untuk memastikan agar Songket Nias Tuwu Nukhada berkualitas.
“Kami memulai produksi kami dengan menggunakan tenaga manual yaitu alat tenun yang masih membutuhkan bantuan dari para ahli tenun untuk menciptakan Songket Nias Tuwu Nukhada. Kami menggunakan bahan seperti benang lokal yang berasal dari Tarutung, Benang Seratus, Benang Kristal dan juga Benang Bemberg yang berasal dari Jepang. Dari situ kami memulai soft launching dengan menggunakan platform media social seperti Instagram dan TikTok,” bebernya.
Tidak hanya sampai disitu, pihaknya juga mempresentasikan projek tersebut pada kesempatan-kesempatan yang telah diberikan. Tuwu berarti mengangkat, dimana kata Tuwu pertama kali digunakan oleh pencipta songket khas Nias yang terinspirasi dari rumah adat Nias, yaitu “Lawa-lawa” dari omo hada.
Dimana ketika lawa-lawa dituwu atau diangkat, sinar matahari masuk ke dalam rumah dan menerangi seluruh ruangan yang ada di dalam rumah. Makna dari filosofi Tuwu adalah mengangkat dan menerangi.
“kami menggunakan hal tersebut sebagai panduan untuk Tuwu Nukhada. Kami ingin mengangkat dan menerangi tradisi dan budaya Nias yang masih terpencil. Tuwu menggambarkan visi dan misi kami dan akan memberikan warna pada kain-kain tradisional Nias. Proses pembuatan songket Nias ditenun secara manual, menciptakan keindahan dan keunikan dalam setiap benangnya. Motif untuk songket dari suku Nias terinspirasi dari budaya, alam, dan simbol-simbol tradisional,” jelasnya.
Beberapa motif yang umum meliputi:
– Motif Geometris: Pola berulang yang menciptakan kesan simetris dan harmonis.
– Motif Alam: Menggambarkan elemen alam seperti tanaman, bunga, dan binatang yang memiliki makna khusus dalam budaya Nias.
– Motif Khas Adat: Simbol-simbol yang berkaitan dengan upacara adat atau kepercayaan masyarakat Nias, seperti motif yang melambangkan keberanian dan kebersamaan. (F08)
Share this content:






Comment