![]()

Oleh : Dr. Hj. Demina. M.Pd Sarifah Aini, Venti Kurnia, Yuhanis, Zalia Putri (Dosen dan Mahasiswi IAIN BATUSANGKAR)
- Paradigma Metode Penelitian
Ada dua metode berpikir dalam perkembangan pengetahuan, yaitu metode deduktif yang dikembangkan oleh Aristoteles dan metode induktif dikembangkan oleh Francis Bacon. Metode deduktif adalah metode berfikir yang berpangkal dari hal-hal yang umum atau teori menuju pada hal-hal yang khusus atau kenyataan. Sedangkan metode induktif adalah sebaliknya. Dalam pelaksanaan, kedua metode tersebut diperlukan dalam penelitian. Kegiatan penelitian memerlukan metode yang jelas. Dalam hal ini ada dua metode penelitian yakni metode kualitatif dan metode kuantitatif. Pada mulanya metode kuantitatif dianggap memenuhi syarat sebagai metode penilaian yang baik, karena menggunakan alat-alat atau intrumen untuk mengakur gejala-gejala tertentu dan diolah secara statistik. Tetapi dalam perkembangannya, data yang berupa angka dan pengolahan matematis tidak dapat menerangkan kebenaran secara meyakinkan. Oleh sebab itu digunakan metode kualitatif yang dianggap mampu menerangkan gejala atau fenomena secara lengkap lengkap dan menyeluruh.
Paradigma Penelitian Kuantitatif metode yang lebih menekankan pada aspek pengukuran secara obyektif terhadap fenomena social. Untuk dapat melakukan pengukuran, setiap fenomena social di jabarkan ke dalam beberapa komponen masalah, variable dan indicator. Setiap variable yang ditentukan di ukur dengan memberikan symbol symbol angka yang berbeda beda sesuai dengan kategori informasi yang berkaitan dengan variable tersebut. Dengan menggunakan symbol symbol angka tersebut, teknik perhitungan secara kuantitatif matematik dapat di lakukan sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang belaku umum di dalam suatu parameter. Tujuan utama ialah menjelaskan suatu masalah tetapi menghasilkan generalisasi. Generalisasi ialah suatu kenyataan kebenaran yang terjadi dalam suatu realitas tentang suatu masalah yang di perkirakan akan berlaku pada suatu populasi tertentu. Generalisasi dapat dihasilkan melalui suatu metode perkiraan atau metode estimasi yang umum berlaku di dalam statistika induktif. Metode estimasi itu sendiri dilakukan berdasarkan pengukuran terhadap keadaan nyata yang lebih terbatas lingkupnya yang juga sering disebut sample dalam penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif mengadakan eksplorasi lebih lanjut serta menemukan fakta dan menguji teori-teori yang timbul.
Paradigma penelitian kualitatif dilakukan melalui proses induktif yaitu berawal dari konsep khusus ke konsep yang umum, meliputi konseptualisasi, kateorisasi, dan deskripsi berdaasarkan masalah yang terjadi di lapangan. Penelitian kualitatif ialah metode penelitian yang berlandaskan padafilsafat postpositivisme yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik atau utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif. Penelitian kualitatif memandang kehidupan sosial sebagai kreativitas bersama individu-individu dan kebersamaan tersebut dapat menghasilkan suatu realitas yang dipandang secara ojektif dan dapat diketahui oleh semua peserta yang melakukan interaksi sosial. Cirinya ialah fenomenologis, induktif, inner behavior, holistic. Penelitian kualitatif memfokuskan dirinya pada makna subjektif, pendefinisian, metapora, dan deskripsi pada kasus-kasus yang spesifik (Neuman, 1997). Peneliti kualitatif berusaha menjangkau berbagai aspek dari duia sosial.
- Pengertian penelitian kualitatif
Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya dan berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri. kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Kualitatif dikenal sejak tahun 1960-an dan sering disebut metode alternatif (alternative method). Metode ini tidak menggunakan pertanyaan yang rinci, tapi dimulai dengan yang umum tetapi kemudian meruncing dan mendetail. Metode kualitatif memperlakukan partisipan sebagai subjek bukan objek sehingga partisipan menganggap dirinya berharga karena informasi dari mereka sangat bermanfaat.
Menurut Sugiyono (2011), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi Kriyantono menyatakan bahwa, “Riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya.” Penelitian kualitatif menekankan pada kedalaman data yang didapatkan oleh peneliti. Semakin dalam dan detail data yang didapatkan, maka semakin baik kualitas dari penelitian kualitatif ini.
C. Dasar Teoritis Penelitian Kualitatif
Pada penelitian kualitatif, teori diartikan sebagai paradigma. Seorang peneliti dalam kegiatan penelitiannya, baik dinyatakan secara eksplisit atau tidak, menerapkan paradigma tertentu sehingga penelitian menjadi terarah. Seorang peneliti yang mengadakan penelitian kualitatif biasanya berorientasi pada orientasi teoritis. Pada penelitian kualitatif, teori dibatasi pada pengertian; suatu peryataan sistimatis yang berkaitan dengan seperangkat proposisi yang berasal dari data yang diuji kembali secara impirus. Dalam uraian tentang dasar teori tersebut, Bogdan dan Biklen (1982) menggunakan istilah paradigma. Paradigma dalam hal ini berguna untuk mengarahkan cara berfikir dan cara penelitian. Penelitian yang baik adalah menyadari dasar orientasinya memanfaatkanya dalam pengumpulan dan analisis data. Pada bagian berikut dikemukakan beberapa kemungkinan teori yang menunjang pendekatan kualitatif. Berikut dikemukakan beberapa pendekatan yang menjadi landasan filosofis penelitian kualitatif sebagai berikut :
- Pendekatan fenomenologis
Penelitian dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa-peristiwa dan kaitan-kaitanya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertetu. Sosiologi fenomologis pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh filsuf Edmund Husserl dan Alfred Schultz. Pengruh lainya berasal dari Weber yang memberi tekanan pada verstehen, yaitu pengertian interpretatif terhadap pemahaman manusia. Fenomologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka. Inkuiru fenomologis memulai dengan diam-diam merupakan tindakan untuk mengungkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti. Yang ditekankan oleh kaum fenomologis ialah aspek subyektif dari perilaku orang. Mereka berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para sobyekyang ditelitinya dengan sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Neong Muhadjir (1998) bahwa pendekatan phenomologik bukan hendak berfikir spekulatif, melainkan hedak mendudukan tinggi pada kemampuan manusia untuk berfikir reflek, dan lebih jauh lagi untuk menggunakan logika reflektif disamping logika induktif dan deduktif, serta logika materiil dan logika social.
Bersamaan dengan perspektif fenomologis, pendekatan ini berasumsi bahwa penglaman manusia ditengahi oleh penafsiran. Obyek, orang, situasi dan peristiwa tidak memiliki pengertianya sendiri, sebaliknya pengertian itu diberikan untuk meraka. Penafsiran bukanlah tindakan bebas dan bukan pula ditentukan oleh kekuatan manusia atau bukan. Orang-orang menafsirkan sesuatu dengan bantuan orang lain seperti orang-orang masa lalu, penilis, keluaarga, pemeran ditelevisidan pribadi-pribadi yang ditemuinyadalam latar tempat mereka bekerjaatau bermain, namun orang lain tidak malakukannya untuk mereka. Melalui interaksi seseorang membetuk pengertian. Orang dalam situasi tertentu (misalnya mahasiswa dalam ruang kuliah tertetu) sering mengembangkan difinisi bersama (atau “perspektif bersama” dalam bahasa interaksi simbolik) karena mereka secara teratur berhubungan dan mengalami pengalaman bersama, masalah, dan latar belakang, tetapi kesepakatan tidak merupakan keherusan.
Dalam interaksi simbolik terdapat beberapa prinsip dalam menafsirkan prilaku manusia. Penganut interaksionis berasumsi bahwa analisis lengkap prilaku manusia akan mampu menangkap makna simbul dalm interaksi. Pakar sosiologi harus juga menangkap pola prilaku dan konsep diri. Konsep itu beragam dan kompleks, verbaldan non verbal, terkatakan dan tidak terkatakan. Prinsip metodologi pertama adalah; social dan interaksi itu menyatu. Tak cukup bila kita hanya merekam fakta , kita harus mencari yang lebih jauh, yaitu mencari konteks seningga dapat ditangkap simbul dan maknanya. Prinsip kedua; karena sinbul dan makna itu tak lepas dari sikap pribadi, maka jati diri obyek dengan demikian menjadi penting. Prinsip metodologi ketiga adalh; peneliti harus sekaligus mengaitkan antara social dengan jatidiri dengan lingkungan dan hubungan socialnya. Konsep jati diri terkait dengan konsep sosiologik tentang struktur social dan lainnya. Prinsip keempat adalah; hendaknya direkam stuasi yang menggambarkan social dan maknanya, bukan hanya merekam fakta sensual saj. Prinsip kelima adalh; metode-metode yang digunakan hendaknya mampu mereflesikan bentuk prilaku dan prosesnya.
Prinsip keenam adalah; metode yang dipakai hendaknya mampu menangkap makna di balik interaksi. Kadangkala ada interaksi yang menunjuk tentang perbedaan hasil penelitian pada daerah kasus yang sama. Perlu dipertimbangkan bahwa banyak sekali kemungkinan terjadinyaperbedaan hasil penalitian, karena memang obyek yang diobservasi berbeda , atau analisisnya berbeda, atau yang dipertanyakan berbeda. Prinsip ketujuh mengemukakan bahwa sesitizing (yaitu sekedar mengarahkan pemikiran) itu yang cocok dengan interaksionisme simbolik dan ketika mulai memasuki lapangan perlu dirumuskan menjadi yang lebih operasional menjadi scientific concepts. Bila prinsip ketujuh ini digunakan, nampaknya mengembangkan interaksionisme simbolik yang phenomologik akan mengarah ke pemikiran statistik kuantitatif.
- Pendekatan etnographi
merupakan salah satu model penelitian yang lebih banyak terkait dengan antropologi, yang mempelajari social, yang menyjikan pandangan hidup sobyekyang menjadi sobyek studi. Lebih jauh etnografi telah diperkembangkan menjadisalah satu model penelitian ilmu-ilmu social yang menggunakan landasan filsafat phenomologi. Studi etnografi merupakan salah satu deskripsi tentang cara berpikir, hidup, berprilaku.
- Pendekatan etnometodologi
adalah studi tentang bagaimana individu menciotakan dan memehami kehidupannya seheri-hari. Sobyek etnometodologi bukanlah suku-suku yang terasing, melainkan orang-orang dari berbagai macam stuasi dalam masyarakat kita. Etnometodologi berusaha memahami bagaimana orang-orng mulai melihat, menerangkan dan menguraikan keteraturan dunia tempat mereka hidup. Menurut para etnometodolog, penelitian bukanlah merupakan usaha ilmiah yang unik, tetapi lebih merupakan “penyelesaian praktis”.
D. Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian yang lainnya. Untuk mnegetahui perbedaan tersebut ada 15 ciri penelitian kualitatif yaitu diantaranya:
- dalam penelitian kualitatif ini data yang dikumpulkan dalam kondisi yang asli atau alamiah (natural Setting.
- Sebagai peneliti alat penelitian yaitu peneliti yaitu sebagai bahan utama pengumpul data berdasarkan pengamatan dan wawancara.
- Penelitian kualitatif ini diusahakan pengumpulan data secara deskritif dan kemdian ditulis dalam laporan.
- Dalam penelitian kualitatif lebih mementingkan proses dari pada hasil.
- Penelitian kualitatif latar belakang sebagai tingkah laku atau perbuatan dicari maknanya.
Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang akan digunakan sedangakan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data dan memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas dan berakhir dengan suatu “ teori”.
E. Metode Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif
Pada penelitian kualitatif ada empat metode untuk mengumpulkan data penelitian, yaitu observasi, wawancara, focus group discussion (FGD), dan analisis dokumen. Adapun penjelasan mengenai masing-masing cara tersebut dijelaskan dalam uraian di bawah ini.
- Wawancara
Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, wawancara bisa saja dilakukan tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya.Karena merupakan proses pembuktian, maka bisa saja hasil wawancara sesuai atau berbeda dengan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Agar wawancara efektif, maka terdapat berapa tahapan yang harus dilalui, yakni ; 1). mengenalkan diri, 2). menjelaskan maksud kedatangan, 3). menjelaskan materi wawancara, dan 4). mengajukan pertanyaan (Yunus, 2010: 358). Selain itu, agar informan dapat menyampaikan informasi yang komprehensif sebagaimana diharapkan peneliti, maka berdasarkan pengalaman wawancara yang penulis lakukan terdapat beberapa kiat sebagai berikut; 1). ciptakan suasana wawancara yang kondusif dan tidak tegang, 2). cari waktu dan tempat yang telah disepakati dengan informan, 3). mulai pertanyaan dari hal-hal sederhana hingga ke yang serius, 4). bersikap hormat dan ramah terhadap informan, 5). tidak menyangkal informasi yang diberikan informan, 6). tidak menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi yang tidak ada hubungannya dengan masalah/tema penelitian,
- Obserasi
Selain wawancara, observasi juga merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Bentuk observasi, yaitu: 1). Observasi partisipasi, 2). observasi tidak terstruktur, dan 3). observasi kelompok. Berikut penjelasannya:1) Observasi partisipasi adalah (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat dalam keseharian informan. 2) Observasi tidak terstruktur ialah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi, sehingga peneliti mengembangkan pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi di lapangan 3) Observasi kelompok ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian.
- Dokumen
Melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali infromasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoretik untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna.
- Focus Group Discussion
Metode terakhir untuk mengumpulkan data ialah lewat Diskusi terpusat (Focus Group Discussion), yaitu upaya menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang lewat diskusi untuk menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti. Misalnya, sekelompok peneliti mendiskusikan hasil UN 2011 di mana nilai rata-rata siswa pada matapelajaran bahasa Indonesia rendah. Untuk menghindari pemaknaan secara subjektif oleh seorang peneliti, maka dibentuk kelompok diskusi terdiri atas beberapa orang peneliti. Dengan beberapa orang mengkaji sebuah isu diharapkan akan diperoleh hasil pemaknaan yang lebih objektif.
Share this content:






Comment