![]()
BNEWS.ID, Kutacane – Udara pagi di kawasan wisata Lawe Ger-Ger, Desa Jongar, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, diselimuti aroma khas durian yang menggoda selera, Selasa (5/8/2025).
Terlihat ratusan buah durian dari berbagai pelosok desa dikumpulkan dalam sebuah ajang kontes untuk memperebutkan predikat durian terbaik, sekaligus mempromosikan komoditas unggulan yang selama ini tersembunyi dari radar nasional.
Suasana di lokasi kontes begitu semarak. Satu per satu buah durian dibelah oleh juri menggunakan pisau tajam. Warna-warni daging durian yang tersaji dari kuning emas hingga krem pucat menjadi pemandangan yang memikat, seolah menegaskan bahwa Aceh Tenggara bukan hanya kaya akan alam, tetapi juga keanekaragaman rasa durian yang tak kalah dengan daerah penghasil durian terkenal lainnya.
Menambah semarak dan kredibilitas acara, hadir pula perwakilan dari komunitas Durian Traveler Indonesia sebagai salah satu dewan juri. Kehadirannya menjadi bukti bahwa durian lokal Aceh Tenggara mulai menarik perhatian komunitas pecinta durian di tingkat nasional.
Komandan Kodim 0108/Aceh Tenggara sekaligus Dansatgas TMMD ke-125, Letkol Czi Arya Murdyantoro, S.T., yang membuka acara secara resmi, menyatakan bahwa kontes ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan bagian dari langkah strategis untuk mengangkat nama durian lokal sebagai komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Melalui kontes ini, kita ingin memperkenalkan durian Aceh Tenggara ke khalayak yang lebih luas. Kegiatan ini menjadi sarana promosi bahwa potensi daerah ini bukan hanya pada sektor pertanian seperti jagung, padi, dan kakao, tetapi juga pada durian yang berkualitas tinggi dan bercita rasa khas,” ujarnya Dansatgas TMMD ke-125, Letkol Czi Arya Murdyantoro, S.T. dalam sambutannya.

Letkol Arya juga menekankan bahwa keterlibatan para petani dalam perlombaan ini menjadi bukti semangat mereka dalam mengembangkan kualitas durian lokal. Ia berharap, kegiatan semacam ini dapat menjadi agenda rutin tahunan sebagai bagian dari promosi pariwisata berbasis pertanian.
“Kita ingin memberikan motivasi kepada petani agar terus meningkatkan kualitas durian. Dengan begitu, nilai jual durian lokal akan meningkat, dan pada saat yang sama, kita turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Keindahan alam Lawe Ger-Ger yang menjadi latar kegiatan juga menambah daya tarik tersendiri. Terletak di kaki bukit dan dikelilingi hutan lebat, lokasi ini dinilai sangat potensial dikembangkan sebagai destinasi agrowisata berbasis durian.
Para pengunjung yang hadir tidak hanya disuguhkan durian unggulan, tetapi juga pengalaman menikmati buah langsung dari sumbernya sebuah konsep wisata yang kini semakin diminati masyarakat urban.
Dengan adanya ajang ini, harapan baru pun muncul: Aceh Tenggara tak hanya dikenal lewat kekayaan alamnya, tetapi juga melalui cita rasa manis, legit, dan aroma khas duriannya yang menggugah selera.
“Semoga ini menjadi awal dari rangkaian promosi yang berkelanjutan, sehingga ke depan, durian Aceh Tenggara bisa bersaing di pasar nasional bahkan internasional,” tutup Letkol Czi Arya Murdyantoro. (Lantra)
Share this content:






Comment