![]()
MEDAN – Bnews.id: Tidak banyak tokoh politik seperti Sabam Sirait di negeri ini yang terus aktif berkiprah di dunia politik sejak masa Orde Lama sampai dengan masa reformasi dala, tujuh masa pemerintahan presiden yang berbeda.
Kiprah politik beliau dimulai dari sekjen Parkindo sampai dengan sekjen PDI dan memberikan banyak sumbangsih pemikiran terhadap partai yang kini telah berganti menjadi PDIP (Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia).
Hal itu disampaikan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumatera Utara Dr Suprayitno, M.Hum di depan Seminar Nasional ‘Pengusulan Sabam Sirait Menjadi Pahlawan Nasional’ di aula FK Universitas HKBP Nommensen, Selasa (8/2/2022).
“Sabam Sirait juga lama duduk sebagai wakil rakyat di gedung DPR sejak periode 1960-an mewakili Parkindo dan mewakili PDI periode 1970-1980-an dan PDIP periode tahun 1990-an hingga 2000-an,” katanya.
Dr Suprayitno yakin dalam perjalanan hidup orang-orang hebat, kisah atau perjalanan hidup di masa kecil adalah bagian penting yang membentuk atau meberikan karakter terhadap orang tersebut.
“Masa-masa kehidupanya di Medan juga menempah Sabam Sirait menjadi seorang yang cerdas dan optimis memandang masa depan. Datang dari kota Satelit seperti Siantar dan menimbah ilmu di kota besar Medan pada tahun 1950-an jelas memberikan pengalaman yang luar biasa terutama tentang politik,” di depan seminar yang dihadiri Direktur Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial RI, Nurharjani, dan Gubernur Sumut yang diwakili oleh Kaban Kesbanglinmas Provsu Safruddin.
Turut hadir di seminar tersebut, Wali Kota Medan Bobby Nasution via zoom, Ketua MUI Medan Prof M. Hatta yang juga penasehat panitia, DR Abdul Syukur, Akademisi Prof DR Robert Sibarani, pengamat media J. Anto, dan lainnya.
Dr Suprayitno mengatakan fase kehidupan Sabam Sirait ketika ia anak-anak sampai dengan remaja di Siantar dan di Medan adalah satu bagian kehidupan penting yang membentuk jiwa dan karakter Sabam Sirait menjadi seorang yang nasionalis.
“Masa-masa sulit kehidupan Sabam ketika perang revolusi kemerdekaan di Siantar memberikan Sabam arti pentingnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, terutama ketika melihat pengorbanan para pejuang dalam upaya memerdekakan bangsa Indonesia, yang seketika mematri di dalam jiwa dan pikirannya bahwa ia adalah seorang yang seharusnya mencintai bangsannya menjadi seorang republiken, menjadi seorang yang nasionalis,” katanya.
Menurut Dr Suprayitno, bagian kehidupan remaja Sabam Sirait ketika di Medan juga merupakan hal yang penting dalam membentuk Sabam Sirait dimasa mendatang sebagai politikus besar di negeri ini.
Perkenalannya ke dunia politik dengan dimentori oleh pamannya seorang tokoh politik Sumatera Utara ia dapatkan di Medan dan menjadi bekal penting untuk Seorang Sabam.
Kecerdasan dan keberaniannya mengutarakan pendapat ketika berbicara di depan umum memang satu hal yang menonjol dan diakui oleh teman-teman semasa remajanya dan semua ini terus ia asa ketika berpindah ke Jakarta untuk melajutkan kuliah.
“Jiwa nasionalisme Sabam Sirait adalah gen yang diturunkan oleh sang ayah. F.H.Sirait semasa muda memang seorang aktivis pergerakan di wilayah Tapanuli dan Simalungun. Fridrik dikenal sebagai salah satu penggerak awal Persatuan Christien Indonesia (Perci) yang didirikan Sutan Mangaraja Soaduan Simatupang,” tukasnya. (Dodi Kurniawan).
Share this content:






Comment