GESER UNTUK MELANJUTKAN KONTEN BERITA
Inspirasi
Home » Sepatu Bunut, Jejak Kejayaan Industri Bangkit Dari Tangan Para Perajin

Sepatu Bunut, Jejak Kejayaan Industri Bangkit Dari Tangan Para Perajin

Sepatu Bunut, Jejak Kejayaan Industri Bangkit Dari Tangan Para Perajin
Sepatu Bunut Kembali Dikenalkan Dari PRSU. (Foto: Bnews.Id)

Loading

Medan, BNEWS.ID – Di antara beragam produk UMKM yang dipamerkan di stan Kabupaten Asahan pada Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50, sebuah nama mengundang rasa penasaran pengunjung. Bagi sebagian generasi muda, nama itu mungkin terdengar asing. Namun bagi masyarakat Asahan, Sepatu Bunut merupakan bagian dari sejarah panjang industri daerah yang pernah mencapai masa kejayaannya dan menjadi kebanggaan masyarakat.

Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin, mengatakan Sepatu Bunut lahir dari aktivitas industri yang berkembang di kawasan Bunut, Kabupaten Asahan. Saat itu, sebuah perusahaan perkebunan memproduksi sepatu dengan memanfaatkan karet sebagai bahan utama sol. Ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadikan Asahan sebagai lokasi yang ideal untuk pengembangan industri tersebut.

“Para pengrajin yang dulu bekerja membuat sepatu itu sampai sekarang masih memiliki keahlian tersebut. Walaupun perusahaan sudah tidak beroperasi, keterampilan mereka tetap hidup,” ujar Taufik didampingi Wakil Bupati Asahan Rianto saat membuka pagelaran seni dan budaya Kabupaten Asahan di PRSU ke-50, Kompleks PRSU, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Medan, Kamis (23/7/2026).

Pada masa kejayaannya, Sepatu Bunut dikenal memiliki kualitas yang baik dengan sol berbahan dasar karet yang kuat dan tahan lama. Produk ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga dikenal hingga ke berbagai daerah, bahkan disebut pernah menembus pasar luar negeri. Keberhasilan tersebut menjadikan Sepatu Bunut sebagai salah satu ikon industri yang membanggakan Kabupaten Asahan.

Pertamina Patra Niaga Perkuat Edukasi Lingkungan Melalui Program SEKAR di Kawasan Pesisir Medan

Namun seiring berjalannya waktu, perusahaan yang menjadi pusat produksi akhirnya berhenti beroperasi. Berakhirnya aktivitas perusahaan tidak serta-merta menghapus keahlian para pekerjanya. Mereka tetap mempertahankan keterampilan yang telah dimiliki selama bertahun-tahun dan melanjutkan profesi sebagai perajin sepatu secara mandiri.

Sebagian perajin kemudian menjalin kerja sama dengan sentra industri sepatu di Cibaduyut, Jawa Barat. Melalui kolaborasi tersebut, keterampilan yang lahir dari industri Sepatu Bunut tetap hidup dan terus berkembang mengikuti kebutuhan pasar.

Bagi masyarakat Asahan, Sepatu Bunut bukan hanya sebuah produk, melainkan simbol sejarah, ketekunan, dan daya juang para perajin. Di balik setiap pasang sepatu tersimpan kisah tentang kemampuan masyarakat bertahan menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas.

Melalui keikutsertaan dalam PRSU ke-50, Pemerintah Kabupaten Asahan kembali memperkenalkan Sepatu Bunut kepada masyarakat luas sebagai bagian dari warisan industri daerah. Langkah tersebut diharapkan mampu membangkitkan kembali kebanggaan terhadap produk lokal sekaligus membuka peluang pasar yang lebih besar bagi para perajin.

Sepatu Bunut mungkin tidak lagi diproduksi secara massal seperti pada masa kejayaannya. Namun sejarahnya masih hidup melalui tangan-tangan para perajin yang tetap setia menjaga kualitas dan mempertahankan warisan keterampilan yang telah diwariskan lintas generasi.

Tak Lagi Menyeberang dengan Rakit Bambu, BSI Maslahat Bangun Jembatan untuk Warga Cilolohan Tasikmalaya

Bagi Kabupaten Asahan, Sepatu Bunut bukan sekadar kenangan masa lalu. Ia adalah bukti bahwa sebuah warisan industri dapat terus hidup selama masih ada manusia yang menjaga, melestarikan, dan meneruskan keahlian yang dimilikinya. (Ardana/Bnews.id)

Share this content:

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share