![]()
Jakarta, BNEWS.ID – Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menanggapi kritik diplomat senior Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, langkah diplomasi yang dilakukan Prabowo merupakan strategi penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Sugiat mengatakan pihaknya menghormati pandangan Dino sebagai diplomat senior. Namun, ia menilai kondisi global saat ini menuntut pendekatan yang berbeda dibandingkan masa lalu.
“Kami menghormati pandangan Pak Dino sebagai diplomat senior. Namun, kita harus melihat bahwa konstelasi global saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan. Di tengah ketegangan geopolitik dunia, kehadiran Pak Prabowo di panggung internasional bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan langkah proaktif untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan dalam membentuk arah kebijakan global yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional,” ujar Sugiat dalam keterangannya. Selasa (02/06/2026).
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI itu menilai lanskap hubungan internasional telah berubah sehingga diplomasi tidak lagi dapat dijalankan hanya melalui pendekatan konvensional. Menurutnya, kehadiran langsung seorang kepala negara menjadi bagian penting dalam membangun pengaruh Indonesia di tingkat global.
“Kita harus memahami bahwa lanskap global saat ini telah berubah secara signifikan. Kritik Pak Dino mungkin lahir dari perspektif diplomasi konvensional. Namun, di era sekarang, kebijakan luar negeri tidak bisa lagi dijalankan hanya dari balik meja atau menunggu laporan. Pak Prabowo sedang mempraktikkan apa yang dapat disebut sebagai peta jalan pengaruh. Kehadiran fisik, jabat tangan langsung, dan dialog tatap muka antar-pemimpin negara merupakan mata uang tertinggi dalam diplomasi modern,” katanya.
Sugiat menegaskan tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo tidak terlepas dari meningkatnya peran Indonesia di tingkat internasional. Menurutnya, banyak negara yang menginginkan keterlibatan Indonesia dalam berbagai isu strategis global.
“Mengapa kunjungan luar negeri ini begitu intens? Jawabannya sederhana, karena dunia membutuhkan kehadiran Indonesia. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, Indonesia tidak lagi memosisikan diri sebagai objek yang pasif, melainkan sebagai subjek yang ikut menentukan arah perkembangan global,” ujarnya.
Ia menilai Prabowo membawa posisi tawar yang kuat sebagai pemimpin negara dengan potensi ekonomi besar sekaligus representasi negara-negara berkembang atau Global South.
“Saat Pak Prabowo melakukan kunjungan ke berbagai negara, beliau membawa posisi tawar yang besar sebagai raksasa ekonomi baru, pemimpin Global South, dan jangkar stabilitas Asia Tenggara. Karena itu, kita perlu mengubah cara pandang. Indonesia tidak sedang mengetuk pintu negara lain, melainkan memenuhi undangan sebagai salah satu pemain penting di dunia,” kata Sugiat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa diplomasi yang dijalankan Prabowo dilakukan secara seimbang kepada negara-negara mitra strategis, baik di kawasan Barat maupun Timur. Menurutnya, langkah tersebut merupakan implementasi nyata politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
“Jika sebelumnya politik luar negeri Indonesia dinilai terlalu pasif, Pak Prabowo mempraktikkannya secara lebih dinamis. Beliau mendatangi negara-negara mitra utama secara berimbang, baik di Barat maupun Timur, untuk menegaskan bahwa Indonesia bersahabat dengan semua pihak, tetapi tidak dapat didikte oleh siapa pun. Ini merupakan wujud nyata kedaulatan bangsa,” ujarnya.
Sugiat juga menepis anggapan bahwa aktivitas diplomasi luar negeri tidak berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat. Ia menegaskan berbagai kerja sama yang dibangun pemerintah bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Mungkin ada anggapan bahwa urusan luar negeri jauh dari kehidupan rakyat. Padahal sebaliknya. Ketika Pak Prabowo berbicara mengenai ketahanan pangan, transfer teknologi pertahanan, atau kerja sama energi di luar negeri, tujuannya adalah memastikan pasokan dalam negeri tetap aman, investasi meningkat, dan lapangan kerja tercipta,” katanya.
Menurut Sugiat, Presiden Prabowo dikenal sebagai pemimpin yang bekerja cepat dan terukur dalam menjalankan agenda diplomasi, termasuk melalui kunjungan ke luar negeri.
“Setiap kunjungan dilakukan dengan agenda yang jelas, padat, dan konkret, mulai dari pencapaian kesepakatan strategis hingga penguatan pengakuan internasional terhadap posisi Indonesia. Menghadapi dinamika dunia yang bergerak sangat cepat, diplomasi melalui surat-menyurat atau pertemuan tidak langsung tentu tidak lagi memadai,” ujarnya.
Meski demikian, Sugiat menegaskan Gerindra tetap terbuka terhadap berbagai kritik dan masukan dari berbagai kalangan, termasuk para pakar hubungan internasional. Ia bahkan mendorong Dino Patti Djalal untuk terus memberikan masukan kepada pemerintah.
“Sebagai partai yang terbuka, Gerindra memandang kritik dari tokoh seperti Pak Dino sebagai vitamin bagi demokrasi. Kami mengajak beliau dan para pakar hubungan internasional lainnya untuk terus memberikan masukan yang konstruktif. Mari bersama-sama mengawal agar posisi tawar Indonesia di dunia internasional yang saat ini semakin kuat dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutupnya. (Fahmi)
Share this content:






Comment