![]()
Medan – Bnews.id: Aliansi Petani Bawang Provinsi Sumatera Utara bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan nyata menghentikan peredaran bawang impor ilegal.
Maraknya bawang ilegal dalam tiga bulan terakhir dinilai telah mencekik kesejahteraan petani lokal akibat rusaknya harga pasar dan munculnya wabah hama baru.
Para petani dan mahasiswa menuntut Menteri Pertanian (Mentan) untuk membuktikan komitmennya yang sempat berjanji akan menindak tegas dan memenjarakan para mafia penyelundup komoditas pangan tersebut.
Seorang petani perempuan asal Kabupaten Karo, Rosimah Tarigan, mengungkapkan bahwa masuknya bawang ilegal tidak hanya menghancurkan harga jual hasil panen di tingkat petani, melainkan juga membawa dampak buruk bagi kesehatan lingkungan pertanian berupa serangan hama penyakit yang kian ganas.
Hingga saat ini, para petani mengaku kesulitan dan belum menemukan formula obat-obatan yang tepat untuk menanggulangi jenis hama baru yang diduga kuat terbawa oleh komoditas impor ilegal tersebut.
“Harapan kami semoga secepatnya pemerintah ambil tindakan atas peredaran bawang ilegal ini, supaya kami bisa bertanam bawang dengan tenang, aman, dan hasil panen bisa dipasarkan sesuai kualitasnya. Kami mau tindakan nyata seperti yang Bapak Mentan katakan: tangkap dan penjarakan! Itu yang kami tuntut, kami harapkan, dan kami tunggu,” kata Rosimah tegas saat menghadiri forum diskusi, Selasa (26/5/2026).
Rosimah menambahkan, para petani sebenarnya telah menempuh jalur diplomasi resmi melalui aksi damai hingga menghadiri undangan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama jajaran legislatif dan eksekutif.
Namun, hingga kini para petani belum melihat adanya keseriusan dan langkah konkret di lapangan untuk menyegel jalur masuk barang selundupan itu.
Mandeknya penegakan hukum dari instansi terkait membuat gerakan mahasiswa di Kota Medan mulai merapatkan barisan. Para mahasiswa menilai fungsi pengawasan dan keberpihakan negara terhadap nasib petani lokal masih sangat minim.
Ketua BEM Fakultas Pertanian USU, Muhammad Haikal Ramadhan, menegaskan pihaknya bersama Aliansi Petani Bawang Sumut akan terus mengawal kasus ini hingga ke akar-akarnya, terlebih isu ini diklaim sudah sampai ke telinga Menteri Pertanian.
“Kami mahasiswa Fakultas Pertanian di Kota Medan bersama Aliansi Petani Bawang Sumut berharap ini segera ditindaklanjuti oleh pihak yang bertanggung jawab atas masuknya bawang ilegal ke Sumut. Mengingat informasi ini sudah sampai ke Menteri Pertanian, mudah-mudahan apa yang diomongkan oleh Mentan itu dapat dipertanggungjawabkannya,” ucap Haikal.
Sinergi antara mahasiswa dan kelompok tani ini sengaja diperkuat melalui forum diskusi terarah guna merumuskan formula pemecahan masalah secara mandiri, mengingat aksi-aksi unjuk rasa sebelumnya belum mampu menghentikan pasokan bawang ilegal di pasar-pasar tradisional.
Perwakilan BEM lainnya menegaskan bahwa jika pemerintah tetap lambat dan abai terhadap jeritan di sektor hulu, maka mahasiswa bersama seluruh elemen petani di Sumatera Utara bersiap untuk kembali turun ke jalan menggelar aksi massa yang lebih besar.
“Diskusi ini kami lakukan bersama BEM se-Kota Medan agar ditemukan pemecahan masalah atas isu yang sudah terjadi selama 3 bulan belakangan ini. Dikarenakan aksi yang sudah kami lakukan sampai sekarang pun bawang ilegal itu masih tetap ada. Supaya petani tidak tercekik lehernya, maka kita harus stop bawang ilegal itu, selamatkan petani kita, dan sejahterakan petani,” ujarnya. (April).
Share this content:






Comment