![]()
BNEWS.ID, Internasional – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan dimulainya “operasi tempur besar-besaran” terhadap Iran, Sabtu (28/2) kemarin, menyusul serangan rudal yang lebih dulu dilancarkan Israel.
Eskalasi konflik ini pun memicu lonjakan harga minyak dunia dan berpotensi mengguncang ekonomi global, termasuk Indonesia.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan harga minyak telah menyentuh USD73 per barel, naik dari sekitar USD65 per barel pada awal Februari.
Ia memperkirakan harga minyak global bisa menembus USD120 per barel, seperti saat Rusia menginvasi Ukraina.
“Yang pasti kenaikan harga minyak akan cukup signifikan,” kata Huda, sapaan akrabnya, sabtu (28/02/2026) saat dihubungi Infobanknews.
Menurutnya, konflik AS-Iran berpotensi memicu gejolak global, terlebih dengan informasi keterlibatan kelompok Houthi yang dapat memanaskan kawasan Laut Merah.
Ia menyebut, jika jalur perdagangan terganggu, harga barang global akan meningkat akibat hambatan distribusi, termasuk akses melalui Terusan Suez di Mesir.
“Harga barang secara global akan meningkat karena blokade akses ke Egypt,” jelasnya.
Huda menilai kenaikan harga minyak mentah dan barang impor akan memperbesar beban subsidi energi pemerintah, terutama bahan bakar minyak (BBM). Tanpa realokasi anggaran, pembengkakan subsidi berisiko menekan fiskal negara.
“Ketika harga minyak mentah dan barang impor naik, maka beban subsidi pemerintah akan membengkak terutama untuk BBM. Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BMM,” tegasnya.
Menurutnya, mengandalkan penerimaan negara tidak cukup ketika ekonomi global semakin tidak menentu.
“Mengandalkan utang baru pun susah karena ada laporan dari Moodys dan terbaru S&P yang mengatakan kondisi pengelolaan fiskal kita buruk,” tandasnya. (*)
Sumber: infobanknews
Share this content:






Comment