![]()
Langkat –
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Langkat terus gencar mengenalkan Museum Daerah mereka yang terletak di Kota Tanjungpura ke berbagai elemen. Setelah mengenalkan kepada pelajar di Bumi Bertuah, Disparbud Langkat kemudian mengajak mereka untuk belajar bersama di Museum Daerah yang merupakan bekas Balai Kerapatan Kesultanan sekaligus peninggalan sejarah yang dibangun tahun 1905 lalu.
Kepala Disparbud Langkat, Hj Nur Elly Heriani Rambe membuka kegiatan belajar bersama di Museum Daerah yang letaknya berdekatan dengan Masjid Azizi Tanjungpura tersebut. Belajar bersama di Museum Daerah ini digelar pada Senin (16/11) dan Selasa (17/11).
“Pesertanya berasal dari SMA dan SMP sederajat di Tanjungpura,” kata dia didampingi Kepala Bidang Seni dan Budaya, Muslihin, Rabu (18/11).
Sebelum masuk ke Museum Daerah, para pelajar wajib mematuhi protokol kesehatan. Karenanya, setiap peserta diwajibkan mencuci tangan di tempat yang telah disediakan.
Tak lupa, juga menggunakan masker selama kegiatan dan mengatur atau menjaga jarak antar peserta. Disparbud Langkat menghadirkan narasumber dari Asosiasi Museum Indonesia Daerah Sumut, Martina Silaban serta Praktisi Pendidikan dan Budayawan.
Kadis berharap, Museum Daerah dapat menjadi tempat belajar yang menyenangkan melalui kegiatan ini. Sebab, Museum Daerah yang memiliki luas 1.500 meter kubik ini kaya akan koleksi peninggalan sejarah, seni hingga budaya.
“Pengenalan sejarah, seni dan budaya sangat dibutuhkan generasi milenial. Sehingga, generasi kita dapat mencintai sejarah, seni dan budaya dalam menyongsong masa depan,” kata dia.
Pelajar terlihat menikmati belajar di Museum Daerah. “Pengenalan ini penting agar memunculkan rasa suka, rasa cinta dan rasa bangga yang akhirnya menjadi semangat untuk maju. Kita meski berhasil mengikuti perkembangan zaman, namun tidak melupakan budaya,” tambah Muslihin.
Disparbud Langkat juga mengenalkan permainan alat musik Gendang Pakpung dan Akordeon. Ini merupakan alat musik tradisional melayu yang semakin sepi digemari oleh masyarakat.
Bahkan, generasi muda kian sedikit menguasai permainan tersebut. Alat musik tradisional melayu ini diperkenalkan oleh Khairul (77), seorang seniman yang telah banyak pengalaman dalam melestarikan seni budaya.
“Pada masa sekarang ini, tantangan untuk melestarikan seni budaya semakin kompleks. Bahkan semakin sedikit pihak yang mau peduli,” kata Khairul.
Karenanya, Disparbud Langkat hadir untuk menggenjot semangat generasi muda agar tak melupakan sejarah, seni dan budaya. “Kami akan berusaha untuk melakukan pengumpulan dokumentasi dan publikasi kekayaan seni budaya yang berasal dari Kabupaten Langkat dalam bentuk digital. Sehingga terhindar dari kepunahan dan mudah diakses masyarakat luas,” tukas Muslihin. (Endang)
Share this content:






Comment